Langsung ke konten utama

Tips ketika mengunjungi Pandeglang


Apa kabar para pembaca…
Pada tulisan kali ini penulis akan memberikan tips ketika anda sedang tersesat atau sedang berada di lingkungan Sunda.
Penulis tahu bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa penghubung antar suku di Indonesia akan tetapi masih banyak masyarakat dari suku tertentu lebih nyaman ketika menggunakan bahasa daerahnya serta banyak masyarakat khususnya masyarakat Sunda akan senang ketika melihat orang asing menggunakan bahasa daerahnya.
Selain itu dengan menggunakan bahasa daerah setempat kita juga dapat terhindar dari kecurangan oknum pedagang atau jasa di tempat tersebut, berdasarkan pengalaman penulis, penulis pernah mencoba menggunakan bahasa Indonesia ketika hendak membeli sesuatu dan harga yang diberikan sedikit berbeda dengan ketika penulis menggunakan bahasa Sunda begitu juga ketika penulis mencoba menggunakan bahasa Indonesia ketika hendak menaiki ojek, harga yang harus dibayarpun sedikit lebih tinggi. Karena mereka menganggap turis adalah orang asing yang tidak mengetahui apapun dari daerah tersebut maka dari itu mereka biasanya akan memberikan harga yang tinggi kepada orang asing.
Oke langsung saja kita mulai.
1.       Ketika anda hendak bertanya jalan/arah kepada seseorang anda dapat menggunakan kalimat “Punten kang/téh upami badé ka (alamat yang dituju) ka palih mana nyah?”
(permisi, kang/teh kalo mau ke (alamat yang dituju) ke arah mana ya?)

2.      Ketika anda tersesat dan tidak tahu sedang berada dimana anda dapat menggunakan kalimat berikut “upami ieu téh lembur naon nyah?”
(kalo ini kampung apa ya?)

3.      Ketika anda hendak menolak tawaran atau ajakan misalnya tukang ojek yang menawari anda untuk menggunakan ojeknya anda bisa menggunakan kalimat seperti ini “Punten kang moal, badé dijemput/ bade mapah baé”
(maaf kang enggak, mau dijemput/ mau jalan aja)

4.      Jika anda hendak membeli sesuatu dan ingin menanyakan harga sebaiknya anda menggunakan kalimat berikut ini “Punten téh/kang/bu/pak upami ieu hargina téh sabaraha?”
(permisi teh/kang/bu/pak kalo ini harganya berapa?)

5.      Ketika anda ingin menawar harga dari suatu produk di pedagang anda bisa menggunakan kalimat “ih, awis amat téh, teu tiasa kirang deui?” (ih mahal banget teh, gak bisa kurang lagi?) anda juga bisa menyebutkan nominal yang anda mau, misalnya “Sapuluh rébu baé nyah” (sepuluh ribu aja ya).
Kosa kata:
1.      Moal : enggak (mau)
2.      Badé : mau/ hendak
3.      Upami : kalo
4.      Awis : Mahal
5.      Tiasa : bisa
6.      Kirang : kurang
7.      Hargi : harga
8.      Palih : sebelah (menunjukan arah)
9.      Jiga : seperti
10.  Sapertos : seperti
11.  Abdi : saya
12.  Anjeun : kamu
13.  Leres : benar
14.  Hoyong : ingin
15.  Acuk : baju
16.  Lancingan : celana
17.  Henteu : tidak
18.  Mirah : murah
19.  Alus : bagus
20.  Pisan : sangat (penggunaannya didepan kata cth: mirah pisan = sangat murah)
21. Sareng : dan

Mungkin cukup sekian yang dapat penulis sampaikan, semoga tips ini bermanfaat bagi para pembaca khususnya anda yang hendak pergi ke daerah dengan pengguna bahasa Sunda. Coba anda buat sebuah kalimat menggunakan kosa kata yang penulis berikan diatas dan tuliskan di kolom komentar!
Sampai jumpa.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontrasnya kualitas dan kuantitas pendidikan Indonesia

Indonesia’s education system has been a high-volume, low-quality enterprise that has fallen well short of the country’s ambitions for an “internationally competitive” system.[1] Di era sekarang ini pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer sebagian masyarakat dunia, banyak orang berlomba lomba untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, bahkan sebagian masyarakat pedesaan di indonesia menganggap pendidikan merupakan simbol status sosial, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin terhormat pula seseorang dimata masyarakat. Hal ini membuat sektor pendidikan di Indonesia menjadi tambang emas yang sangat potensial bagi beberapa orang. Langkah besar pemerintah Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah telah membuat langkah besar dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan, dengan berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana dan pendidikan gratis bagi seluruh masyarakat. Terbukti  pada jumlah sekolah (semua jenjang pendidikan) pada dua tahun terakhir men...

Pikukuh Baduy : panjang jangan dipotong pendek jangan disambung

"lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung" kutipan diatas penulis kutip dari sebuah pikukuh atau nasehat yang sudah turun temurun dijaga oleh masyarakat baduy, arti dari kutipan diatas adalah panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung dari kalimat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa alam ini harus lah dijaga dan kita tidak boleh merubah dan merusak alam yang sudah Tuhan ciptakan, semua mesti dalam keadaan seimbang, tidak boleh lebih atau kurang, alam yang sudah ada sejak dulu haruslah dipelihara sebaik mungkin karena kita hidup begantung pada alam, ketika alam marah maka tidaka ada upaya yang bisa kita lakukan. jika seluruh Indonesia menerapkan apa yang dilakukan masyarakat baduy penulis percaya pasti alam kita akan selalu lestari. Jadi apa yang kita pelajari dari masyarakat baduy? adalah kita tidak boleh merusak alam seenaknya karena kita hidup dari alam maka sebaiknya kita menjaga alam kita.

Don't judge a book by its cover? Then, how we judge it?

Don't judge a book by its cover        Pernah mendengar ungkapan tersebut? Penulis yakin anda semua pasti pernah mendengarnya atau bahkan menggunakannya, ya ungkapan tersebut untuk memberikan pemahaman kepada orang bahwa untuk menilai sesuatu tidak bisa hanya melihat dari luarnya saja, namun seberapa benar ungkapan tersebut?        Di toko buku sendiri buku (baru) yang mereka jual pasti dalam keadaan terbungkus plastik, lalu bagamana cara kita menilai sebuah buku jika bukan dari jilidnya? Seorang penulis buku yang baik pasti akan memilih perancang jilid terbaik untuk karyanya karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk para pembaca karyanya. Begitu pula dengan manusia, manusia yang baik pasti akan menampilkan kesan yang baik kepada orang disekitarnya.        Jadi, nilailah buku dari jilidnya karena buku yang baik pasti ditulis oleh penulis yang baik dan penulis yang baik pasti akan memilih perancang jilid...