Langsung ke konten utama

Pendidikan berbanding lurus dengan kemajuan suatu negara

Di era globalisasi ini pendidikan seakan menjadi kebutuhan pokok. Semua orang berlomba-lomba untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Hal ini diakibatkan oleh semakin bebasnya perdagangan dunia yang menuntut semua orang mempunyai kualifikasi yang cukup untuk bersaing dengan warga dunia lainya. Persaingan bukan lagi dalam lingkup daerah atau nasional akan tetapi sekarang ini  manusia bersaing dalam lingkup yang lebih luas yakni persaingan global setiap warga dunia dapat bersaing dengan warga dunia lain meskipun berbeda negara atau bahkan berbeda benua sekalipun.
Menurut sebagian kalangan hal ini tidaklah adil karena belum semua negara mempunyai kualitas pendidikan yang setara. Warga masyarakat negara-negara berkemabang akan sulit bersaing dengan masyarakat negara-negara maju yang notabene memiliki kualitas pendidikan yang lebih baik ketimbang pendidikan di negara-negara berkembang karena kemajuan suatu negara biasanya berbanding lurus dengan kualitas pendidikannya. hal tersebut membuat setiap negara berlomba-lomba untuk memperbaiki kualitas pendidikan di negaranya. hal inipula yang dilakukan oleh negara-negara berkembang termasuk Indonesia yang mana sampai saat ini Indonesia masih berusaha mengejar ketertinggalannyan dalam sektor pendidikan, saat ini kualitas pendidikan Indonesia dirasa masih belum terlalu baik hal ini terbukti dari hasil skor program penilaian pelajar internasional (PISA) pada tahun 2015 meskipun skor Indonesia mengalami peningkatan dibanding beberapa tahun sebelumnya, namun tetap saja peringkat Indonesia masih sangat jauh dibanding negara tetangga kita misalnya Singapura yang berhasil menempati posisi tinggi. Skor PISA Indonesia berada di peringkat ke-63 dari 70 peserta PISA.
Mengapa hal ini dapat terjadi? Bukankah pemerintah telah menggelontorkan dana hingga Rp. 444,1 Triliun untuk pendidikan atau 20% dari APBN (T.A 2018), meskipun uang yang dihabiskan cukup besar jika tidak ditunjang oleh komponen yang memadai maka tidak akan berdampak yang signifikan. Kita tahu bawa guru meupakan salah satu komponen terpenting dalam dunia pendidikan namun masih banyak guru yang belum memiliki kompetensi yang cukup dibuktikan dengan hasil ujian kompetensi guru (UKG) yang dilakukan oleh pemerintah dari sekian banyak guru yang mengikuti ujian tersebut hanya beberapa saja yang mendapatkan nilai yang memuaskan, dan sisanya belum mendapatkan nilai yang sesuai bahkan banyak dari mereka belum mencapai standar yang ditetapkan oleh pemerintah. Dengan demikian proses pembelajaran yang dilakukan pun tidak akan berjalan baik, karena kompetensi yang dimiliki guru akan berimplikasi pada kualitas pembelajaran yang dilakukan, dan pembelajaran yang berkualitas akan menciptakan pendidikan yang berkualitas pula.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontrasnya kualitas dan kuantitas pendidikan Indonesia

Indonesia’s education system has been a high-volume, low-quality enterprise that has fallen well short of the country’s ambitions for an “internationally competitive” system.[1] Di era sekarang ini pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer sebagian masyarakat dunia, banyak orang berlomba lomba untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, bahkan sebagian masyarakat pedesaan di indonesia menganggap pendidikan merupakan simbol status sosial, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin terhormat pula seseorang dimata masyarakat. Hal ini membuat sektor pendidikan di Indonesia menjadi tambang emas yang sangat potensial bagi beberapa orang. Langkah besar pemerintah Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah telah membuat langkah besar dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan, dengan berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana dan pendidikan gratis bagi seluruh masyarakat. Terbukti  pada jumlah sekolah (semua jenjang pendidikan) pada dua tahun terakhir men...

Pikukuh Baduy : panjang jangan dipotong pendek jangan disambung

"lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung" kutipan diatas penulis kutip dari sebuah pikukuh atau nasehat yang sudah turun temurun dijaga oleh masyarakat baduy, arti dari kutipan diatas adalah panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung dari kalimat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa alam ini harus lah dijaga dan kita tidak boleh merubah dan merusak alam yang sudah Tuhan ciptakan, semua mesti dalam keadaan seimbang, tidak boleh lebih atau kurang, alam yang sudah ada sejak dulu haruslah dipelihara sebaik mungkin karena kita hidup begantung pada alam, ketika alam marah maka tidaka ada upaya yang bisa kita lakukan. jika seluruh Indonesia menerapkan apa yang dilakukan masyarakat baduy penulis percaya pasti alam kita akan selalu lestari. Jadi apa yang kita pelajari dari masyarakat baduy? adalah kita tidak boleh merusak alam seenaknya karena kita hidup dari alam maka sebaiknya kita menjaga alam kita.

Don't judge a book by its cover? Then, how we judge it?

Don't judge a book by its cover        Pernah mendengar ungkapan tersebut? Penulis yakin anda semua pasti pernah mendengarnya atau bahkan menggunakannya, ya ungkapan tersebut untuk memberikan pemahaman kepada orang bahwa untuk menilai sesuatu tidak bisa hanya melihat dari luarnya saja, namun seberapa benar ungkapan tersebut?        Di toko buku sendiri buku (baru) yang mereka jual pasti dalam keadaan terbungkus plastik, lalu bagamana cara kita menilai sebuah buku jika bukan dari jilidnya? Seorang penulis buku yang baik pasti akan memilih perancang jilid terbaik untuk karyanya karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk para pembaca karyanya. Begitu pula dengan manusia, manusia yang baik pasti akan menampilkan kesan yang baik kepada orang disekitarnya.        Jadi, nilailah buku dari jilidnya karena buku yang baik pasti ditulis oleh penulis yang baik dan penulis yang baik pasti akan memilih perancang jilid...