Langsung ke konten utama

Kami membela Islam!

Assalamu'alaikum para pembaca yang budiman..

pada kesempatan kali ini penulis akan mengulas tentang aksi bela islam yang akhir-akhir ini sangat sering dilakukan?
sumber: liputan6.com
Mulai dari aksi bela islam 212, bela tauhid, reuni 212 dan masih banyak lagi aksi bela-bela yang lain.
pernahkah anda bertanya-dtanya dalam benak anda apa dampak lain yang ditimbulkan dari kegiatan aksi-aksi tadi? sampah dan kemacetan.

Ya sampah yang dihasilkan dari aksi-aksi tadi kadangkala menjadi pemandangan yang cukup mengganggu karena tidak sedikit dari peserta yang membeli air kemasan dan membuang bekasnya begitu saja serta kegiatan ini biasanya menimbulkan kemacetan yang sangat parah. dampak dari kemacetan adalah tersendatnya mobilitas manusia jika mobilitas manusia terhambat, maka kegiatan ekonomi juga akan ikut terhambat. penulis tidak menyalahkan atau mengecam kegiatan aksi-aksi dan orasi seperti ini karena kadang kita perlu juga untuk silaturahmi dan memperkuat solidaritas kita sebagai umat islam, namun penulis beranggapan bahwa kegiatan seperti ini terlalu masif dan frekuensinya terlalu sering.
sebagai seorang muslim memang sudah wajib membela agama kita namun apakah harus dengan aksi-aksi dan orasai seperti ini?

Menurut opini penulis untuk membela agama, bukan hanya melalui aksi-aksi seperti ini, harusnya kita membela agama dengan cara menunjukan sifat kita sebagai muslim, bukan mengatakan kita adalah muslim tetapi kita harus menunjukan sifat kita sebagai muslim dengan cara bertutur kata baik, berperilaku sopan, mencintai lingkungan, menjunjung tinggi toleransi, dan masih banyak lagi cara yang lebih baik daripada berorasi didepan gedung-gedung tertentu karena Rasulullah pun tidak pernah melakukan orasi-orasi seperti itu bukan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontrasnya kualitas dan kuantitas pendidikan Indonesia

Indonesia’s education system has been a high-volume, low-quality enterprise that has fallen well short of the country’s ambitions for an “internationally competitive” system.[1] Di era sekarang ini pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer sebagian masyarakat dunia, banyak orang berlomba lomba untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, bahkan sebagian masyarakat pedesaan di indonesia menganggap pendidikan merupakan simbol status sosial, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin terhormat pula seseorang dimata masyarakat. Hal ini membuat sektor pendidikan di Indonesia menjadi tambang emas yang sangat potensial bagi beberapa orang. Langkah besar pemerintah Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah telah membuat langkah besar dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan, dengan berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana dan pendidikan gratis bagi seluruh masyarakat. Terbukti  pada jumlah sekolah (semua jenjang pendidikan) pada dua tahun terakhir men...

Pikukuh Baduy : panjang jangan dipotong pendek jangan disambung

"lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung" kutipan diatas penulis kutip dari sebuah pikukuh atau nasehat yang sudah turun temurun dijaga oleh masyarakat baduy, arti dari kutipan diatas adalah panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung dari kalimat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa alam ini harus lah dijaga dan kita tidak boleh merubah dan merusak alam yang sudah Tuhan ciptakan, semua mesti dalam keadaan seimbang, tidak boleh lebih atau kurang, alam yang sudah ada sejak dulu haruslah dipelihara sebaik mungkin karena kita hidup begantung pada alam, ketika alam marah maka tidaka ada upaya yang bisa kita lakukan. jika seluruh Indonesia menerapkan apa yang dilakukan masyarakat baduy penulis percaya pasti alam kita akan selalu lestari. Jadi apa yang kita pelajari dari masyarakat baduy? adalah kita tidak boleh merusak alam seenaknya karena kita hidup dari alam maka sebaiknya kita menjaga alam kita.

Don't judge a book by its cover? Then, how we judge it?

Don't judge a book by its cover        Pernah mendengar ungkapan tersebut? Penulis yakin anda semua pasti pernah mendengarnya atau bahkan menggunakannya, ya ungkapan tersebut untuk memberikan pemahaman kepada orang bahwa untuk menilai sesuatu tidak bisa hanya melihat dari luarnya saja, namun seberapa benar ungkapan tersebut?        Di toko buku sendiri buku (baru) yang mereka jual pasti dalam keadaan terbungkus plastik, lalu bagamana cara kita menilai sebuah buku jika bukan dari jilidnya? Seorang penulis buku yang baik pasti akan memilih perancang jilid terbaik untuk karyanya karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk para pembaca karyanya. Begitu pula dengan manusia, manusia yang baik pasti akan menampilkan kesan yang baik kepada orang disekitarnya.        Jadi, nilailah buku dari jilidnya karena buku yang baik pasti ditulis oleh penulis yang baik dan penulis yang baik pasti akan memilih perancang jilid...