Langsung ke konten utama

Indonesian and eco friendly lifestyle : tidak mau naik transportasi umum?

Selamat pagi, siang, sore, atau malam kepada para pembaca..

Pada tulisan kali ini penulis ingin membahas mengenai transportasi umum,
sebelumnya penulis ingin bertanya seberapa seringkah anda menggunakan moda transportasi umum? sangat sering? sering? pernah? atau malah belum pernah?
mungkin di antara para pebaca ada yang belum pernah menggunakan moda transportasi umum karena transportasi umum di indonesia masih terkesan belum terlalu baik mulai dari faktor kebersihan, pengelolaan yang belum jelas, tidak adanya transparansi tarif dan faktor keamanan yang belum terjamin membuat sebagian masyarakat enggan untuk menggunakan transportasi umum, padahal dengan naik transportas kita mendapatkan keuntungan seperti.

Kita dapat menghemat biaya mobilitas
ketika kita membawa kendaraan pribadi berapa biaya yang anda keluarkan untuk membeli bahan bakar? misal anda biasanya mengeluarkan uang sebanyak Rp 50 ribu untuk sekali jalan dengan menggunakan kereta atau bis anda hanya perlu mengeluarkan biaya Rp. 20-30 ribu saja, bayangkan berapa banyak uang yang anda hemat dalam satu bulan atau satu tahun.

Mengurangi penggunaan bahan bakar fosil
selain menghemat uang, dengan menggunakan transportasi umum kita juga mendukung program go green, apakah anda tahu bahwa bahan bakar yang kita gunakan merupakan bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaharui? ya BBM yang kita kunakan saat ini sebagian besar masih menggunakan bahan fosil yang tersedia di alam kita tahu bahwa bahan cadangan bahan bakar fosil sudah mulai menipis persediaannya.

Mendukung program eco friendly
selain kedua manfaat diatas dengan menggunakan transportasi umum kita juga mendukung program go green, karena dapat kita bayangkan betapa masifnya produksi gas rumah kaca akibat penggunaan kendaraan pribadi, dengan menggunakan moda transoportasi umum setidaknya kita mengurangi produksi gas rumah kaca tersebut.

nah, mulai sekarang jangan ragu untuk menggunakan transportasi umum, selain murah kita juga mendukung program go green.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontrasnya kualitas dan kuantitas pendidikan Indonesia

Indonesia’s education system has been a high-volume, low-quality enterprise that has fallen well short of the country’s ambitions for an “internationally competitive” system.[1] Di era sekarang ini pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer sebagian masyarakat dunia, banyak orang berlomba lomba untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, bahkan sebagian masyarakat pedesaan di indonesia menganggap pendidikan merupakan simbol status sosial, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin terhormat pula seseorang dimata masyarakat. Hal ini membuat sektor pendidikan di Indonesia menjadi tambang emas yang sangat potensial bagi beberapa orang. Langkah besar pemerintah Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah telah membuat langkah besar dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan, dengan berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana dan pendidikan gratis bagi seluruh masyarakat. Terbukti  pada jumlah sekolah (semua jenjang pendidikan) pada dua tahun terakhir men...

Pikukuh Baduy : panjang jangan dipotong pendek jangan disambung

"lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung" kutipan diatas penulis kutip dari sebuah pikukuh atau nasehat yang sudah turun temurun dijaga oleh masyarakat baduy, arti dari kutipan diatas adalah panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung dari kalimat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa alam ini harus lah dijaga dan kita tidak boleh merubah dan merusak alam yang sudah Tuhan ciptakan, semua mesti dalam keadaan seimbang, tidak boleh lebih atau kurang, alam yang sudah ada sejak dulu haruslah dipelihara sebaik mungkin karena kita hidup begantung pada alam, ketika alam marah maka tidaka ada upaya yang bisa kita lakukan. jika seluruh Indonesia menerapkan apa yang dilakukan masyarakat baduy penulis percaya pasti alam kita akan selalu lestari. Jadi apa yang kita pelajari dari masyarakat baduy? adalah kita tidak boleh merusak alam seenaknya karena kita hidup dari alam maka sebaiknya kita menjaga alam kita.

Don't judge a book by its cover? Then, how we judge it?

Don't judge a book by its cover        Pernah mendengar ungkapan tersebut? Penulis yakin anda semua pasti pernah mendengarnya atau bahkan menggunakannya, ya ungkapan tersebut untuk memberikan pemahaman kepada orang bahwa untuk menilai sesuatu tidak bisa hanya melihat dari luarnya saja, namun seberapa benar ungkapan tersebut?        Di toko buku sendiri buku (baru) yang mereka jual pasti dalam keadaan terbungkus plastik, lalu bagamana cara kita menilai sebuah buku jika bukan dari jilidnya? Seorang penulis buku yang baik pasti akan memilih perancang jilid terbaik untuk karyanya karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk para pembaca karyanya. Begitu pula dengan manusia, manusia yang baik pasti akan menampilkan kesan yang baik kepada orang disekitarnya.        Jadi, nilailah buku dari jilidnya karena buku yang baik pasti ditulis oleh penulis yang baik dan penulis yang baik pasti akan memilih perancang jilid...