Langsung ke konten utama

Indonesian and eco friendly lifestyle : menggunakan kertas




Hai pembaca..

Kali ini penulis akan membahas mengenai pengguan kertas. Sebelum penulis membahas mengenai kertas penulis ingin menceritakan kemarin penulis mendapatkan sebuah tugas membuat laporan dari seorang dosen dan laporan  tersebut  kurang lebih berisi sebanyak 400-an lembar kertas, sebenarnya melihat hal ini penulis cukup sedih karena penulis berpikir berapa pohon yang digunakan untuk membuat kertas sebanyak itu bayangkan saja jika asumsi satu buah pohon hanya bisa membuat satu rim kertas (pohon pinus usia 5 tahun) berarti butuh 43 pohon untuk memenuhi kebutuhan laporan 3 kelas yang berisi masing-masing kelas sebanyak 43 orang (1 kelompok 3 orang). Belum lagi penggunaan kertas di Indonesia ini masih sangat masif seperti pembuatan buku sekolah, famlet, brosur, koran dan masih banyak lagi . menurut penulis penggunaan kertas sebenarnya sudah tidak efektif lagi karena masa penggunaan kertas bissanya hanya sebentar dan berakhir di tempat sampah.
Kita tahu bahwa pertumbuhan pohon membutuhkan waktu yang cukup lama  belum lagi dalam prosesnya pasti akan memnbutuhkan perawatan yang tidak mudah, dan pasti akan mebutuhkan biaya yang sangat banyak. Jika seluruh lembaga melakukan kegiatan penghematan kertas maka dapat kita bayangkan berapa banyak  uang dan energi yang dapat kita hemat, selain itu memang sudah saatnya kita beralih ke digital.
Jika kita tidak mulai memperbaiki pola konsumsi kertas sekarang, maka akan terjadi kebiasaan dan ketergantungan untuk selalu menggunakan kertas dalam jumlah besar. Hal ini tentunya akan memberikan tekanan secara terus menerus kepada bumi kita dan memberi dampak yang kurang menguntungkan bagi lingkungan, maka dari itu penulis sangat sekali mendukung kegiatan paperless, selain menghemat biaya dengan melakukan paperless kita juga turut membantu kegiatan go green. Jadi mulai saat ini ayo paperless!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontrasnya kualitas dan kuantitas pendidikan Indonesia

Indonesia’s education system has been a high-volume, low-quality enterprise that has fallen well short of the country’s ambitions for an “internationally competitive” system.[1] Di era sekarang ini pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer sebagian masyarakat dunia, banyak orang berlomba lomba untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, bahkan sebagian masyarakat pedesaan di indonesia menganggap pendidikan merupakan simbol status sosial, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin terhormat pula seseorang dimata masyarakat. Hal ini membuat sektor pendidikan di Indonesia menjadi tambang emas yang sangat potensial bagi beberapa orang. Langkah besar pemerintah Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah telah membuat langkah besar dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan, dengan berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana dan pendidikan gratis bagi seluruh masyarakat. Terbukti  pada jumlah sekolah (semua jenjang pendidikan) pada dua tahun terakhir men...

Pikukuh Baduy : panjang jangan dipotong pendek jangan disambung

"lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung" kutipan diatas penulis kutip dari sebuah pikukuh atau nasehat yang sudah turun temurun dijaga oleh masyarakat baduy, arti dari kutipan diatas adalah panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung dari kalimat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa alam ini harus lah dijaga dan kita tidak boleh merubah dan merusak alam yang sudah Tuhan ciptakan, semua mesti dalam keadaan seimbang, tidak boleh lebih atau kurang, alam yang sudah ada sejak dulu haruslah dipelihara sebaik mungkin karena kita hidup begantung pada alam, ketika alam marah maka tidaka ada upaya yang bisa kita lakukan. jika seluruh Indonesia menerapkan apa yang dilakukan masyarakat baduy penulis percaya pasti alam kita akan selalu lestari. Jadi apa yang kita pelajari dari masyarakat baduy? adalah kita tidak boleh merusak alam seenaknya karena kita hidup dari alam maka sebaiknya kita menjaga alam kita.

Don't judge a book by its cover? Then, how we judge it?

Don't judge a book by its cover        Pernah mendengar ungkapan tersebut? Penulis yakin anda semua pasti pernah mendengarnya atau bahkan menggunakannya, ya ungkapan tersebut untuk memberikan pemahaman kepada orang bahwa untuk menilai sesuatu tidak bisa hanya melihat dari luarnya saja, namun seberapa benar ungkapan tersebut?        Di toko buku sendiri buku (baru) yang mereka jual pasti dalam keadaan terbungkus plastik, lalu bagamana cara kita menilai sebuah buku jika bukan dari jilidnya? Seorang penulis buku yang baik pasti akan memilih perancang jilid terbaik untuk karyanya karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk para pembaca karyanya. Begitu pula dengan manusia, manusia yang baik pasti akan menampilkan kesan yang baik kepada orang disekitarnya.        Jadi, nilailah buku dari jilidnya karena buku yang baik pasti ditulis oleh penulis yang baik dan penulis yang baik pasti akan memilih perancang jilid...