Langsung ke konten utama

Indonesian and eco friendly lifestyle : sampah plastik

Stop konsumsi plastik!

Beli makan pake wadah plastik, beli minum pake gelas plastik plus sedotan plastik, belanja pake plastik kresek..

Pernahkah kita berpikir bahwa setiap plastik yang kita gunakan ternyata hanya kita gunakan selama beberapa menit saja?
Misal ketika kita minum menggunakan sedotan plastik, kita menggunakan nya hanya sekitar 5 - 10 menit setelah itu kita buang. Atau ketika membeli makanan ringan, setelah isinya kita konsumsi lalu bungkusnya pasti kita buang. Dapat kita bayangkan berapa banyak sampah plastik yang kita hasilkan?
berdasarkan data dari kementrian lingkungan hidup dan kehutanan (KLHK) produksi sampah nasional adalah 65.8 juta ton pertahunya dimana sekitar 16 persennya merupakan sampah plastik. lalu kemanakah sampah-sampah itu akan berlanjut?
sampah plastik yang berhasil dihimpun akan berlanjut ke proses pengolahan sampah yang dilakukan oleh dinas terkait namun bagaimana jika sampah plastik yang tidak berhasil dihimpun atau diproses? sampah plastik yang tidak berhasil diproses akan bercampur dengan tanah, kemudian akan mencemari tanah dan air tanah belum lagi jika sampah yang kita buang berlanjut mengikuti arus air lalu berlanjut ke sungai, kemanakah arus sungai mengarah? ya, tentu saja ke laut ketika sampah sudah berada di laut, sampah plastik akan terbawa arus laut dan akan berkumpul di satu titik hingga menjadi tumpukan besar sampah, terhitung terdapat beberapa pulau sampah  yang tercipta di bumi ini, salah satu diantaranya disebut The Great Pacific Garbage Patch atau Pulau sampah pasifik besar saking besarnya bahkan pulau sampah ini dapat kita sebut sebagai benua sampah, parahnya negara kita merupakan penyuimbang sampah plastik terbesar ke-dua setelah Tiongkok.

Ilustrasi

Dalam prosesnya sampah-sampah yang mengambang di laut akan berubah menjadi bentuk yang lebih kecil atau sering disebut mikroplastik dalam bentuk ini sampah plastik masuk kedalam ekosistem laut dan menjadi makanan hewan-hewan laut. Tidak sampai di situ saja hewan hewan besar sekelas paus dan penyu pun sering mati akibat memakan sampah plastik, belum lama ini kita mendengar berita telah ditemukannya bangkai paus di perairan Indonesia dengan perut penuh sampah plastik. 
Bahkan menurut riset yang dilansir jurnal nature pada tahun 2015 yang lalu, dari bebarapa sampel ikan yang diteliti hampir semuanya terkontaminasi limbah plastik. kita tahu bahwa ikan merupakan salah satu sumber protein yang mudah ditemukan di Indonesia. entah kita sadari atau  tidak kita juga sering mengkonsumsi sampah plastik yang kita buang sendiri.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontrasnya kualitas dan kuantitas pendidikan Indonesia

Indonesia’s education system has been a high-volume, low-quality enterprise that has fallen well short of the country’s ambitions for an “internationally competitive” system.[1] Di era sekarang ini pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer sebagian masyarakat dunia, banyak orang berlomba lomba untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, bahkan sebagian masyarakat pedesaan di indonesia menganggap pendidikan merupakan simbol status sosial, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin terhormat pula seseorang dimata masyarakat. Hal ini membuat sektor pendidikan di Indonesia menjadi tambang emas yang sangat potensial bagi beberapa orang. Langkah besar pemerintah Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah telah membuat langkah besar dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan, dengan berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana dan pendidikan gratis bagi seluruh masyarakat. Terbukti  pada jumlah sekolah (semua jenjang pendidikan) pada dua tahun terakhir men...

Pikukuh Baduy : panjang jangan dipotong pendek jangan disambung

"lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung" kutipan diatas penulis kutip dari sebuah pikukuh atau nasehat yang sudah turun temurun dijaga oleh masyarakat baduy, arti dari kutipan diatas adalah panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung dari kalimat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa alam ini harus lah dijaga dan kita tidak boleh merubah dan merusak alam yang sudah Tuhan ciptakan, semua mesti dalam keadaan seimbang, tidak boleh lebih atau kurang, alam yang sudah ada sejak dulu haruslah dipelihara sebaik mungkin karena kita hidup begantung pada alam, ketika alam marah maka tidaka ada upaya yang bisa kita lakukan. jika seluruh Indonesia menerapkan apa yang dilakukan masyarakat baduy penulis percaya pasti alam kita akan selalu lestari. Jadi apa yang kita pelajari dari masyarakat baduy? adalah kita tidak boleh merusak alam seenaknya karena kita hidup dari alam maka sebaiknya kita menjaga alam kita.

Don't judge a book by its cover? Then, how we judge it?

Don't judge a book by its cover        Pernah mendengar ungkapan tersebut? Penulis yakin anda semua pasti pernah mendengarnya atau bahkan menggunakannya, ya ungkapan tersebut untuk memberikan pemahaman kepada orang bahwa untuk menilai sesuatu tidak bisa hanya melihat dari luarnya saja, namun seberapa benar ungkapan tersebut?        Di toko buku sendiri buku (baru) yang mereka jual pasti dalam keadaan terbungkus plastik, lalu bagamana cara kita menilai sebuah buku jika bukan dari jilidnya? Seorang penulis buku yang baik pasti akan memilih perancang jilid terbaik untuk karyanya karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk para pembaca karyanya. Begitu pula dengan manusia, manusia yang baik pasti akan menampilkan kesan yang baik kepada orang disekitarnya.        Jadi, nilailah buku dari jilidnya karena buku yang baik pasti ditulis oleh penulis yang baik dan penulis yang baik pasti akan memilih perancang jilid...