Langsung ke konten utama

Edukasi menghadapi bencana di Indonesia

salam para pembaca yang budiman..
 
Pada hari ini penulis akan membahas mengenai edukasi menghadapi bencana alam di Indonesia yang masih sangat minim, kita tahu bahwa secara geografis indonesia terletak di atas ring of fire, belum lagi indonesia berada di antara ketiga lempeng utama yaitu Eurasia, Indoaustralia, dan pasifik yang membuat Indonesia seperti "mall"nya bencana alam. sangat sering bencana alam terjadi di negara kita ini, mulai dari gempa bumi, tsunami, gunung meletus dan lain sebagainya.
BNPB mencatat sejak tahun 2008 hingga 2018, di Indonesia telah terjadi 19,131 bencana alam.

dengan fakta-fakta diatas seharusnya Indonesia menjadi negara yang tanggap akan bencana, bukan hanya pemerintahnya saja tetapi juga masyarakatnya harus tanggap terhadap bencana. masih ingatkah dengan bencana gempa bumi yang terjadi di Lombok? atau gempa dan sunami yang melanda Palu, Sigi dan Donggala? apakah anda tau berapa korban jiwa yang ditimbulkan dari bencana alam ini?
tercatat 82 orang meninggal dunia akibat gempa Lombok dan sebanyak 1.571 orang korban jiwa akibat gempa di Palu,Siggi dan Donggala. korban korban diatas adalah jumlah korban yang ditemukan jumlah ini bisa saja bertama mengingat masih banyak korban yang hilang atau belum ditemukan.

 pernahkan anda bertanya mengapa jumlah korban yang yangbegitu banyak?
penulis  sadar bahwa maut dan umur seseorang adalah kehendak sang khalik namun penulis beranggapan bahwa hal ini bisa saja terjadi akibat masih rendahnya pemahaman masyarakat dalam menghadapi suatu bencana, sehingga masyarakat tidak tahu apa yang harus mereka lakukan dikala terjadinya bencana, hal ini akibat belum optimalnya sosialisasi terhadap tanggap bencana yang dilakukan pemerintah atau dinas terkait, selain itu penulis tidak pernah melihat sekolah khususnya di pedesaan malaksanakan simulasi bencana alam, belum lagi banyak daerah daerah di indonesia yang belum terfasilitasi terkait hal ini seperti belum banyaknya jalur evakusi seperti di negara-negara rawan bencana lain.

BNPB: Korban Tewas Gempa dan Tsunami di Sulteng 1.407 Orang

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "BNPB: Korban Tewas Gempa dan Tsunami di Sulteng 1.407 Orang", https://nasional.kompas.com/read/2018/10/03/14063121/bnpb-korban-tewas-gempa-dan-tsunami-di-sulteng-1407-orang.
Penulis : Fitria Chusna Farisa
Editor : Sandro Gatra
BNPB: Korban Tewas Gempa dan Tsunami di Sulteng 1.407 Orang

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "BNPB: Korban Tewas Gempa dan Tsunami di Sulteng 1.407 Orang", https://nasional.kompas.com/read/2018/10/03/14063121/bnpb-korban-tewas-gempa-dan-tsunami-di-sulteng-1407-orang.
Penulis : Fitria Chusna Farisa
Editor : Sandro Gatra
Korban Tewas Gempa dan Tsunami di Sulteng 1.407 Orang

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "BNPB: Korban Tewas Gempa dan Tsunami di Sulteng 1.407 Orang", https://nasional.kompas.com/read/2018/10/03/14063121/bnpb-korban-tewas-gempa-dan-tsunami-di-sulteng-1407-orang.
Penulis : Fitria Chusna Farisa
Editor : Sandro Gatra
Korban Tewas Gempa dan Tsunami di Sulteng 1.407 Orang

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "BNPB: Korban Tewas Gempa dan Tsunami di Sulteng 1.407 Orang", https://nasional.kompas.com/read/2018/10/03/14063121/bnpb-korban-tewas-gempa-dan-tsunami-di-sulteng-1407-orang.
Penulis : Fitria Chusna Farisa
Editor : Sandro Gatra

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontrasnya kualitas dan kuantitas pendidikan Indonesia

Indonesia’s education system has been a high-volume, low-quality enterprise that has fallen well short of the country’s ambitions for an “internationally competitive” system.[1] Di era sekarang ini pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer sebagian masyarakat dunia, banyak orang berlomba lomba untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, bahkan sebagian masyarakat pedesaan di indonesia menganggap pendidikan merupakan simbol status sosial, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin terhormat pula seseorang dimata masyarakat. Hal ini membuat sektor pendidikan di Indonesia menjadi tambang emas yang sangat potensial bagi beberapa orang. Langkah besar pemerintah Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah telah membuat langkah besar dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan, dengan berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana dan pendidikan gratis bagi seluruh masyarakat. Terbukti  pada jumlah sekolah (semua jenjang pendidikan) pada dua tahun terakhir men...

Pikukuh Baduy : panjang jangan dipotong pendek jangan disambung

"lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung" kutipan diatas penulis kutip dari sebuah pikukuh atau nasehat yang sudah turun temurun dijaga oleh masyarakat baduy, arti dari kutipan diatas adalah panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung dari kalimat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa alam ini harus lah dijaga dan kita tidak boleh merubah dan merusak alam yang sudah Tuhan ciptakan, semua mesti dalam keadaan seimbang, tidak boleh lebih atau kurang, alam yang sudah ada sejak dulu haruslah dipelihara sebaik mungkin karena kita hidup begantung pada alam, ketika alam marah maka tidaka ada upaya yang bisa kita lakukan. jika seluruh Indonesia menerapkan apa yang dilakukan masyarakat baduy penulis percaya pasti alam kita akan selalu lestari. Jadi apa yang kita pelajari dari masyarakat baduy? adalah kita tidak boleh merusak alam seenaknya karena kita hidup dari alam maka sebaiknya kita menjaga alam kita.

Don't judge a book by its cover? Then, how we judge it?

Don't judge a book by its cover        Pernah mendengar ungkapan tersebut? Penulis yakin anda semua pasti pernah mendengarnya atau bahkan menggunakannya, ya ungkapan tersebut untuk memberikan pemahaman kepada orang bahwa untuk menilai sesuatu tidak bisa hanya melihat dari luarnya saja, namun seberapa benar ungkapan tersebut?        Di toko buku sendiri buku (baru) yang mereka jual pasti dalam keadaan terbungkus plastik, lalu bagamana cara kita menilai sebuah buku jika bukan dari jilidnya? Seorang penulis buku yang baik pasti akan memilih perancang jilid terbaik untuk karyanya karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk para pembaca karyanya. Begitu pula dengan manusia, manusia yang baik pasti akan menampilkan kesan yang baik kepada orang disekitarnya.        Jadi, nilailah buku dari jilidnya karena buku yang baik pasti ditulis oleh penulis yang baik dan penulis yang baik pasti akan memilih perancang jilid...