Langsung ke konten utama

Bina lingkungan sekitar aja dulu.


Jika anda melihat gambar-gambar tadi, menurut anda dimanakah lokasi jjkiranya gambar-gambar tersebut diambil?

Pasar? atau sekitaran TPA?

Namun keduanya salah, gambar gambar tersebut penulis ambil di lingkungan kampus salah satu Universitas terbaik di provinsi Banten. Sulit dipercaya memang, tetapi hal ini memang sebuah realita yang ada bahkan ini terjadi di lingkungan kampus fakultas pendidikan yang notabene mahasiswanya akan menjadi para pendidik. ya memang hal ini merupakan sebuah ironi dimana banyak dari mahasiswanya berlomba-lomba pergi ke pelosok desa untuk melakukan pembinaan (pengabdian) kepada warga desa namun dilingkungan mereka belajar malah tidak tersentuh.

Mengajar, bagi-bagi sembako, melakukan kegiatan kebugaran bersama, menggalakan kebersihan lingkunagan, dsb. merupakan kegiatan-kegiatan yang dilaku oleh para mahasiswa saat mereka pengabdian ke pedesaan, akan tetapi mereka lupa akan masyarakat di lingkungan sekitar kampusnya, padahal kebanyakan dari mereka tinggal di lingkungan tersebut, banyak masyarakat yang masih membuang sampah di saluran air, penulis rasa sebaiknya sebelum para mahasiswa melakukan pembinaan ke pedesaan alangkah lebih baik jika memberikan pembinaan dahulu ke lingkungan kampusnya, sebab masyarakat umum akan berpikir bagaimana mahasisawa akan membina desa jika lingkungan sekitar kampusnya saja masih kotor dan banyak sampah di saluran air? 

Karena lingkungan belajar yang baik dan bersih adalah cerminan pendidikan yang berhasil.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontrasnya kualitas dan kuantitas pendidikan Indonesia

Indonesia’s education system has been a high-volume, low-quality enterprise that has fallen well short of the country’s ambitions for an “internationally competitive” system.[1] Di era sekarang ini pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer sebagian masyarakat dunia, banyak orang berlomba lomba untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, bahkan sebagian masyarakat pedesaan di indonesia menganggap pendidikan merupakan simbol status sosial, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin terhormat pula seseorang dimata masyarakat. Hal ini membuat sektor pendidikan di Indonesia menjadi tambang emas yang sangat potensial bagi beberapa orang. Langkah besar pemerintah Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah telah membuat langkah besar dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan, dengan berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana dan pendidikan gratis bagi seluruh masyarakat. Terbukti  pada jumlah sekolah (semua jenjang pendidikan) pada dua tahun terakhir men...

Pikukuh Baduy : panjang jangan dipotong pendek jangan disambung

"lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung" kutipan diatas penulis kutip dari sebuah pikukuh atau nasehat yang sudah turun temurun dijaga oleh masyarakat baduy, arti dari kutipan diatas adalah panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung dari kalimat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa alam ini harus lah dijaga dan kita tidak boleh merubah dan merusak alam yang sudah Tuhan ciptakan, semua mesti dalam keadaan seimbang, tidak boleh lebih atau kurang, alam yang sudah ada sejak dulu haruslah dipelihara sebaik mungkin karena kita hidup begantung pada alam, ketika alam marah maka tidaka ada upaya yang bisa kita lakukan. jika seluruh Indonesia menerapkan apa yang dilakukan masyarakat baduy penulis percaya pasti alam kita akan selalu lestari. Jadi apa yang kita pelajari dari masyarakat baduy? adalah kita tidak boleh merusak alam seenaknya karena kita hidup dari alam maka sebaiknya kita menjaga alam kita.

Don't judge a book by its cover? Then, how we judge it?

Don't judge a book by its cover        Pernah mendengar ungkapan tersebut? Penulis yakin anda semua pasti pernah mendengarnya atau bahkan menggunakannya, ya ungkapan tersebut untuk memberikan pemahaman kepada orang bahwa untuk menilai sesuatu tidak bisa hanya melihat dari luarnya saja, namun seberapa benar ungkapan tersebut?        Di toko buku sendiri buku (baru) yang mereka jual pasti dalam keadaan terbungkus plastik, lalu bagamana cara kita menilai sebuah buku jika bukan dari jilidnya? Seorang penulis buku yang baik pasti akan memilih perancang jilid terbaik untuk karyanya karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk para pembaca karyanya. Begitu pula dengan manusia, manusia yang baik pasti akan menampilkan kesan yang baik kepada orang disekitarnya.        Jadi, nilailah buku dari jilidnya karena buku yang baik pasti ditulis oleh penulis yang baik dan penulis yang baik pasti akan memilih perancang jilid...