Langsung ke konten utama

Ironi Sebatang Rokok



“PERINGATAN : MEROKOK MEMBUNUHMU” kutipan ini penulis ambil dari iklan rokok yang beredar di Indonesia. Namun pernahkah anda memikirkan kenapa harus ada peringatan atau bahkan gambar mengerikan dalam iklan atau bungkus rokok? Jawabannya adalah, pemerintah sudah mengatur hal tersebut dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.109 tahun 2012 tentang Pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif  berupa produk tembakau bagi kesehatan dalam peraturan tersebut terdapat ketentuan bahwa dalam iklan produk rokok harus mencantumkan peringatan kesehatan dalam bentuk gambar dan tulisan sebesar paling sedikit 10% (sepuluh persen) dari total durasi iklan dan/atau 15% (lima belas persen) dari total luas iklan. Pertanyaan selanjutnya adalah jika merokok itu dapat membunuhmu lalu kenapa pemerintah masih membolehkan adanya industri rokok?
Sejarah mencatat industri rokok di indonesia sudah dimulai sejak abad ke-19 oleh seseorang bernama Nitisemito pada tahun 1906 dengan merek “Tjap Bal Tiga” dan langkah Nitisemito tersebut menjadi tonggak tumbuhnya industri rokok di indonesia sampai saat ini bahkan industri rokok menjadi salah satu penyumbang cukai terbesar. Tercatat pada tahun 2016 industri rokok memberikan pembayaran cukai sebesar Rp 139,69 triliun atau 96,65% dari total cukai nasional dan industri rokok juga menyerap tenaga kerja sebanyak 5,35 juta orang termasuk dalam sektor perkebunan. bayangkan bagaimana jika industri ini ditutup maka barapa banyak kerugian negara, belum lagi banyak sekali petani kecil (tembakau) yang bergantung pada industri ini.
        Baru-baru ini telah terjadi kehebohan bahwa defisit anggaran yang terjadi pada BPJS kesehatan telah ditambal oleh cukai rokok, bukankah ini sebuah ironi bahwa biaya kesehatan masyarakat saja ditanggung oleh rokok yang menurut beberapa penelitian bahwa rokok sangat buruk bagi kesehatan itu sendiri? belum lagi industri ini banyak sekali mengeluarkan beasiswa kepada para pelajar, sebut saja beasiswa Djarum. Hal ini adalah bukti bahwa industri rokok aktif  berinteraksi dengan lembaga pendidikan dan lagi lagi hal tersebut adalah sebuah ironi disatu sisi dunia pendidikan  ‘mengharamkan’ rokok karena akan berdampak buruk bagi kesehatan namun disisi lain industri rokok juga mempunyai peran terhadap kemajuan pendidikan Indonesia.
       Jadi dapat kita simpulkan bahwa industri rokok tidak dapat ditutup begitu saja karena banyak orang yang menggantungkan harapannya di industri tersebut, namun satu hal yang perlu kita tahu bahwa merokok sangatlah buruk bagi kesehatan.


Sumber : 
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 109 Tahun 2012



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontrasnya kualitas dan kuantitas pendidikan Indonesia

Indonesia’s education system has been a high-volume, low-quality enterprise that has fallen well short of the country’s ambitions for an “internationally competitive” system.[1] Di era sekarang ini pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer sebagian masyarakat dunia, banyak orang berlomba lomba untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, bahkan sebagian masyarakat pedesaan di indonesia menganggap pendidikan merupakan simbol status sosial, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin terhormat pula seseorang dimata masyarakat. Hal ini membuat sektor pendidikan di Indonesia menjadi tambang emas yang sangat potensial bagi beberapa orang. Langkah besar pemerintah Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah telah membuat langkah besar dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan, dengan berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana dan pendidikan gratis bagi seluruh masyarakat. Terbukti  pada jumlah sekolah (semua jenjang pendidikan) pada dua tahun terakhir men...

Pikukuh Baduy : panjang jangan dipotong pendek jangan disambung

"lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung" kutipan diatas penulis kutip dari sebuah pikukuh atau nasehat yang sudah turun temurun dijaga oleh masyarakat baduy, arti dari kutipan diatas adalah panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung dari kalimat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa alam ini harus lah dijaga dan kita tidak boleh merubah dan merusak alam yang sudah Tuhan ciptakan, semua mesti dalam keadaan seimbang, tidak boleh lebih atau kurang, alam yang sudah ada sejak dulu haruslah dipelihara sebaik mungkin karena kita hidup begantung pada alam, ketika alam marah maka tidaka ada upaya yang bisa kita lakukan. jika seluruh Indonesia menerapkan apa yang dilakukan masyarakat baduy penulis percaya pasti alam kita akan selalu lestari. Jadi apa yang kita pelajari dari masyarakat baduy? adalah kita tidak boleh merusak alam seenaknya karena kita hidup dari alam maka sebaiknya kita menjaga alam kita.

Don't judge a book by its cover? Then, how we judge it?

Don't judge a book by its cover        Pernah mendengar ungkapan tersebut? Penulis yakin anda semua pasti pernah mendengarnya atau bahkan menggunakannya, ya ungkapan tersebut untuk memberikan pemahaman kepada orang bahwa untuk menilai sesuatu tidak bisa hanya melihat dari luarnya saja, namun seberapa benar ungkapan tersebut?        Di toko buku sendiri buku (baru) yang mereka jual pasti dalam keadaan terbungkus plastik, lalu bagamana cara kita menilai sebuah buku jika bukan dari jilidnya? Seorang penulis buku yang baik pasti akan memilih perancang jilid terbaik untuk karyanya karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk para pembaca karyanya. Begitu pula dengan manusia, manusia yang baik pasti akan menampilkan kesan yang baik kepada orang disekitarnya.        Jadi, nilailah buku dari jilidnya karena buku yang baik pasti ditulis oleh penulis yang baik dan penulis yang baik pasti akan memilih perancang jilid...