Langsung ke konten utama

Fanatisme



Fanatisme adalah keyakinan/ (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama dan sebagainya). (KBBI)
Kenapa penulis ingin mengulas tentang fanatisme? Masih segar ingatan kita pada apa yang telah terjadi pada seorang pria bernama Haringga Sirila seorang pendukung salah satu klub bola indonesia yang tewas dikeroyok oleh oknum pendukung klub lawan, 

dilansir dari laman berita Liputan6.com Peristiwa pengeroyokan terjadi di area parkir GBLA. kejadian itu berlangsung sekitar pukul 13.00 WIB atau tiga jam sebelum Kick-off pertandingan Persib kontra persija, Minggu (23/9/2018). 
Mirisnya hal seperti ini bukanlah kejadian pertama, sebelumnya kejadian pernah beberapa kali terjadi. Hal seperti ini sebenarnya mencoreng citra sepak bola Indonesia di mata dunia. 
Lantas mengapa kejadian seperti bisa terjadi? kecintaan  terhadap sesuatu dengan berlebihan atau fanatisme menjadi dasar yang kuat sehingga keinginan untuk saling berbangga diri dan menonjolkan  kelompok dan golongannya sangat kuat dan menganggap rendah kelompok lain.
Sebenarnya sikap fanatik merupakan hal yang wajar karena setiap manusia memiliki kecenderungan yang berbeda dan hal ini merupakan ciri otentik antara manusia yang satu dengan manusia yang lain namun jika sikap fanatik ini sudah berlebihan maka sudah bukan hal yang normal, apalagi jika sudah memiliki kecenderung mengabaikan  informasi yang kontradiktif dengan apa yang ia yakini dan sudah tidak mampu untuk melihat sudut pandang lain dari apa yang ia yakini tersebut.
Sikap fanatisme adalah wujud lain dari intoleransi dan sikap intoleran sendiri bisa terjadi karena kurangnya pendidikan terhadap toleransi. pendidikan toleransi ini seharusnya sudah dipupuk sejak dini misalnya biasakan anak untuk menghargai orang lain, biarkan anak berteman dengan orang yang berbeda latar belakang seperti berbeda agama, suku dan budaya, dan tidak menilai masyarakat lain.
Kita bisa pahami  bahwa fanatisme merupakan sikap yang memposisikan diri pada sebuah golongan, membelanya secara ekstrem atau sampai titik darah penghabisan tanpa memperhatikan kebenaran yang ada.p Mengajarkan toleransi pada anak sejak dini merupakan salah satu cara untuk meminimalisir bahaya fanatisme tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontrasnya kualitas dan kuantitas pendidikan Indonesia

Indonesia’s education system has been a high-volume, low-quality enterprise that has fallen well short of the country’s ambitions for an “internationally competitive” system.[1] Di era sekarang ini pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer sebagian masyarakat dunia, banyak orang berlomba lomba untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, bahkan sebagian masyarakat pedesaan di indonesia menganggap pendidikan merupakan simbol status sosial, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin terhormat pula seseorang dimata masyarakat. Hal ini membuat sektor pendidikan di Indonesia menjadi tambang emas yang sangat potensial bagi beberapa orang. Langkah besar pemerintah Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah telah membuat langkah besar dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan, dengan berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana dan pendidikan gratis bagi seluruh masyarakat. Terbukti  pada jumlah sekolah (semua jenjang pendidikan) pada dua tahun terakhir men...

Pikukuh Baduy : panjang jangan dipotong pendek jangan disambung

"lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung" kutipan diatas penulis kutip dari sebuah pikukuh atau nasehat yang sudah turun temurun dijaga oleh masyarakat baduy, arti dari kutipan diatas adalah panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung dari kalimat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa alam ini harus lah dijaga dan kita tidak boleh merubah dan merusak alam yang sudah Tuhan ciptakan, semua mesti dalam keadaan seimbang, tidak boleh lebih atau kurang, alam yang sudah ada sejak dulu haruslah dipelihara sebaik mungkin karena kita hidup begantung pada alam, ketika alam marah maka tidaka ada upaya yang bisa kita lakukan. jika seluruh Indonesia menerapkan apa yang dilakukan masyarakat baduy penulis percaya pasti alam kita akan selalu lestari. Jadi apa yang kita pelajari dari masyarakat baduy? adalah kita tidak boleh merusak alam seenaknya karena kita hidup dari alam maka sebaiknya kita menjaga alam kita.

Don't judge a book by its cover? Then, how we judge it?

Don't judge a book by its cover        Pernah mendengar ungkapan tersebut? Penulis yakin anda semua pasti pernah mendengarnya atau bahkan menggunakannya, ya ungkapan tersebut untuk memberikan pemahaman kepada orang bahwa untuk menilai sesuatu tidak bisa hanya melihat dari luarnya saja, namun seberapa benar ungkapan tersebut?        Di toko buku sendiri buku (baru) yang mereka jual pasti dalam keadaan terbungkus plastik, lalu bagamana cara kita menilai sebuah buku jika bukan dari jilidnya? Seorang penulis buku yang baik pasti akan memilih perancang jilid terbaik untuk karyanya karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk para pembaca karyanya. Begitu pula dengan manusia, manusia yang baik pasti akan menampilkan kesan yang baik kepada orang disekitarnya.        Jadi, nilailah buku dari jilidnya karena buku yang baik pasti ditulis oleh penulis yang baik dan penulis yang baik pasti akan memilih perancang jilid...