“ Dek tadi belajar apa?”(tanya penulis kepada adik penulis)
“Belajar IPA kak” jawabnya.
“Belajar IPA nya bagian materi apa?”
“Enggak tahu kak, tapi tadi disekolah nyalin dari buku paket ke buku tulis kak”
“Kok bisa enggak tahu?”
“Iya soalnya tadi gurunya hanya menyuruh menulis saja”.
Hmm, kok belum ada perubahan ya? padahal cara belajar seperti itu sudah dipakai ketika saya bersekolah di sana dan itu sudah sekitar 11 tahun yang lalu. Pikir penulis.
“Siapa yang mengajar?”
“Pak Adi kak”
Kebetulan Adi adalah teman sekelas penulis saat SD. Adi baru saja lulus dari SMA sekitar setahun yang lalu dan mengajar di SD tersebut. Penulis pikir kenapa setelah ia mendapatkan cara pengajaran yang kurang baik kenapa ia melakukan kesalahan yang sama padahal kita sama sama tahu bahwa cara mengajar tersebut tidaklah baik, Jika hal ini terus berlanjut bukan tidak mungkin jika anak muridnya menjadi pengajar maka akan melakukan hal yang sama.
Cerita ini hanyalah salah satu cerita mungkin saja masih banyak cerita ceritaseperti ini di desa desa diseluruh Indonesia.
Apa yang bisa kita ambil dari cerita di atas adalah begitu lambatnya perkembangan kualitas SD di Desa, pesan yang kita dapat adalah jika anak mendapat pengajaran yang salah maka bukan tidak mungkin sang anak akan melakukan hal yang sama.
Komentar
Posting Komentar