Langsung ke konten utama

SD ku.


“ Dek tadi belajar apa?”(tanya penulis kepada adik penulis)
“Belajar IPA kak” jawabnya.
“Belajar IPA nya bagian materi apa?”
“Enggak tahu kak, tapi tadi disekolah nyalin dari buku paket ke buku tulis kak”
“Kok bisa enggak tahu?”
“Iya soalnya tadi gurunya hanya menyuruh menulis saja”.
Hmm, kok belum ada perubahan ya? padahal cara belajar seperti itu sudah dipakai ketika saya bersekolah di sana dan itu sudah sekitar 11 tahun yang lalu. Pikir penulis.
“Siapa yang mengajar?”
 “Pak Adi kak”
Kebetulan Adi adalah teman sekelas penulis saat SD. Adi baru saja lulus dari SMA sekitar setahun yang lalu dan mengajar di SD tersebut.  Penulis pikir kenapa setelah ia mendapatkan cara pengajaran yang kurang baik kenapa ia melakukan kesalahan yang sama padahal kita sama sama tahu bahwa cara mengajar tersebut tidaklah baik, Jika hal ini terus berlanjut bukan tidak mungkin jika anak muridnya menjadi pengajar maka akan melakukan hal yang sama.
Cerita ini hanyalah salah satu cerita mungkin saja masih banyak cerita ceritaseperti ini di desa desa diseluruh Indonesia.
Apa yang bisa kita ambil dari cerita di atas adalah begitu lambatnya perkembangan kualitas SD di Desa, pesan yang kita dapat adalah jika anak mendapat pengajaran yang salah maka bukan tidak mungkin sang anak akan melakukan hal yang sama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontrasnya kualitas dan kuantitas pendidikan Indonesia

Indonesia’s education system has been a high-volume, low-quality enterprise that has fallen well short of the country’s ambitions for an “internationally competitive” system.[1] Di era sekarang ini pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer sebagian masyarakat dunia, banyak orang berlomba lomba untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, bahkan sebagian masyarakat pedesaan di indonesia menganggap pendidikan merupakan simbol status sosial, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin terhormat pula seseorang dimata masyarakat. Hal ini membuat sektor pendidikan di Indonesia menjadi tambang emas yang sangat potensial bagi beberapa orang. Langkah besar pemerintah Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah telah membuat langkah besar dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan, dengan berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana dan pendidikan gratis bagi seluruh masyarakat. Terbukti  pada jumlah sekolah (semua jenjang pendidikan) pada dua tahun terakhir men...

Pikukuh Baduy : panjang jangan dipotong pendek jangan disambung

"lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung" kutipan diatas penulis kutip dari sebuah pikukuh atau nasehat yang sudah turun temurun dijaga oleh masyarakat baduy, arti dari kutipan diatas adalah panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung dari kalimat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa alam ini harus lah dijaga dan kita tidak boleh merubah dan merusak alam yang sudah Tuhan ciptakan, semua mesti dalam keadaan seimbang, tidak boleh lebih atau kurang, alam yang sudah ada sejak dulu haruslah dipelihara sebaik mungkin karena kita hidup begantung pada alam, ketika alam marah maka tidaka ada upaya yang bisa kita lakukan. jika seluruh Indonesia menerapkan apa yang dilakukan masyarakat baduy penulis percaya pasti alam kita akan selalu lestari. Jadi apa yang kita pelajari dari masyarakat baduy? adalah kita tidak boleh merusak alam seenaknya karena kita hidup dari alam maka sebaiknya kita menjaga alam kita.

Don't judge a book by its cover? Then, how we judge it?

Don't judge a book by its cover        Pernah mendengar ungkapan tersebut? Penulis yakin anda semua pasti pernah mendengarnya atau bahkan menggunakannya, ya ungkapan tersebut untuk memberikan pemahaman kepada orang bahwa untuk menilai sesuatu tidak bisa hanya melihat dari luarnya saja, namun seberapa benar ungkapan tersebut?        Di toko buku sendiri buku (baru) yang mereka jual pasti dalam keadaan terbungkus plastik, lalu bagamana cara kita menilai sebuah buku jika bukan dari jilidnya? Seorang penulis buku yang baik pasti akan memilih perancang jilid terbaik untuk karyanya karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk para pembaca karyanya. Begitu pula dengan manusia, manusia yang baik pasti akan menampilkan kesan yang baik kepada orang disekitarnya.        Jadi, nilailah buku dari jilidnya karena buku yang baik pasti ditulis oleh penulis yang baik dan penulis yang baik pasti akan memilih perancang jilid...