Langsung ke konten utama

Tolong Antre!

“Mas saya duluan ya, saya buru-buru soalnya”
Apa yang anda rasakan jika seseorang mengatakan kalimat tersebut ketika anda sedang membawa belanjaan dan hendak membayar di kasir?

Kesal pastinya, hal tersebut sering sekali penulis alami dan yang jadi pertanyaan penulis adalah mengapa orang indonesia sulit sekali untuk mengantre? apakah orang indonesia sangat sibuk sehingga tidak ada waktu untuk menunggu sejenak hingga mendapatkan giliran? atau orang indonesia tidak kenal dengan istilah antre? entahlah namun yang perlu kita ketahui bahwa perilaku antre merupakan tindakan yang sangat terpuji, dengan kita mengantre berarti kita menghargai hak orang lain dan sebaliknya jika anda menyerobot antrean orang lain maka anda menganggap kepentingan orang lain lebih rendah dibandingkan kepentingan anda.
Egoisme, hal inilah yang mendasari kenapa orang sulit mengantre, ingin menang sendiri dan menganggap kepentingan diri sendiri lebih penting daripada kepentingan orang lain.
untuk menumbuhkan budaya antre tersebut maka kita harus menanamkannya sejak dini salah satu caranya adalah jika anda mempunyai anak maka libatkanlah ia dalam kegiatan mengantre, perilaku yang diajarkan sejak kecil maka akan terbawa sampai ia dewasa dan akan ia turunkan lagi ke generasi selanjutnya.

usaha yang dilakukan penulis untuk mengedukasi masyarakat agar terbiasa mengantre adalah penulis selalu berdiri di belakang pelanggan yang sedang di layani oleh kasir dengan kita lakukan hal tersebut maka kemungkinan besar pelanggan lain akan mengikuti kita mengantre.

Sumber gambar : mirror.co.uk

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontrasnya kualitas dan kuantitas pendidikan Indonesia

Indonesia’s education system has been a high-volume, low-quality enterprise that has fallen well short of the country’s ambitions for an “internationally competitive” system.[1] Di era sekarang ini pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer sebagian masyarakat dunia, banyak orang berlomba lomba untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, bahkan sebagian masyarakat pedesaan di indonesia menganggap pendidikan merupakan simbol status sosial, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin terhormat pula seseorang dimata masyarakat. Hal ini membuat sektor pendidikan di Indonesia menjadi tambang emas yang sangat potensial bagi beberapa orang. Langkah besar pemerintah Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah telah membuat langkah besar dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan, dengan berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana dan pendidikan gratis bagi seluruh masyarakat. Terbukti  pada jumlah sekolah (semua jenjang pendidikan) pada dua tahun terakhir men...

Pikukuh Baduy : panjang jangan dipotong pendek jangan disambung

"lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung" kutipan diatas penulis kutip dari sebuah pikukuh atau nasehat yang sudah turun temurun dijaga oleh masyarakat baduy, arti dari kutipan diatas adalah panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung dari kalimat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa alam ini harus lah dijaga dan kita tidak boleh merubah dan merusak alam yang sudah Tuhan ciptakan, semua mesti dalam keadaan seimbang, tidak boleh lebih atau kurang, alam yang sudah ada sejak dulu haruslah dipelihara sebaik mungkin karena kita hidup begantung pada alam, ketika alam marah maka tidaka ada upaya yang bisa kita lakukan. jika seluruh Indonesia menerapkan apa yang dilakukan masyarakat baduy penulis percaya pasti alam kita akan selalu lestari. Jadi apa yang kita pelajari dari masyarakat baduy? adalah kita tidak boleh merusak alam seenaknya karena kita hidup dari alam maka sebaiknya kita menjaga alam kita.

Don't judge a book by its cover? Then, how we judge it?

Don't judge a book by its cover        Pernah mendengar ungkapan tersebut? Penulis yakin anda semua pasti pernah mendengarnya atau bahkan menggunakannya, ya ungkapan tersebut untuk memberikan pemahaman kepada orang bahwa untuk menilai sesuatu tidak bisa hanya melihat dari luarnya saja, namun seberapa benar ungkapan tersebut?        Di toko buku sendiri buku (baru) yang mereka jual pasti dalam keadaan terbungkus plastik, lalu bagamana cara kita menilai sebuah buku jika bukan dari jilidnya? Seorang penulis buku yang baik pasti akan memilih perancang jilid terbaik untuk karyanya karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk para pembaca karyanya. Begitu pula dengan manusia, manusia yang baik pasti akan menampilkan kesan yang baik kepada orang disekitarnya.        Jadi, nilailah buku dari jilidnya karena buku yang baik pasti ditulis oleh penulis yang baik dan penulis yang baik pasti akan memilih perancang jilid...