Langsung ke konten utama

Jangan di klik, Pamali! (Budaya Pamali untuk Anak)



jika anda membaca artikel ini berarti anda telah melanggar satu pamali.. hehehe..
“jangan duduk di pintu! pamali, nanti jauh jodoh”
”pamali, nasinya harus di habiskan, nanti nasinya nangis”
“jangan berkaca di cermin pecah! pamali!”.

Mungkin dahulu kita sering mendengar kata pamali, apalagi jika anda lahir dalam lingkungan sunda karena orang tua jaman dahulu terlebih jika orang Sunda sering sekali mengeluarkan kata “pamali” untuk melarang anak-anaknya melakukan sesuatu yang dianggap kurang baik menurut mereka. Sebenarnya tujuan pamali itu sangat baik, misal pamali duduk di depan pintu karena bisa menghalangi orang lewat atau pamali  jika tidak menghabiskan makanan karena memang mubazir membuang buang makanan. namun kenapa harus di takut-takuti untuk menamkan pendidikan? kenapa tidak langsung saja diberitahukan alasan yang logis? entahlah yang pasti budaya pamali adalah salah satu kearifan lokal indonesia yang sukses membuat kita disiplin (pada masanya) namun apakah masih relevan jika kita menggunakan kata pamali untuk mendisiplinkan anak di era sekarang ini? tentu saja tidak kata pamali sudah tidak  ampuh kepada anak zaman sekarang hal ini bisa saja terjadi karena faktor lingkungan yang sudah jauh berkembang sehingga anak tidak lagi percaya pada hal-hal yang tidak masuk  logikanya. untuk menanamkan kedisiplinan anak haruslah dengan memberikan alasan yang logis contoh jika anak tidak mau menghabiskan makanannya beri dia pengertian bahwa hal itu adalah tindakan yang kurang baik dan mubazir. Namun budaya pamali masih bisa kita gunakan namun bukan pamalinya tapi konsep pamali tersebut bagaimana caranya? Dengan memberi pantangan terhadap perilaku buruk tetapi tidak dengan kepercayaan yang tidak logisnya contoh kita bisa menerapkan pamali (pantangan) jika menyerobot antrean, atau pamali (pantangan) jika membuang sampah sembarangan atau bahkan pamali (pantangan) jika korupsi uang rakyat.

kesimpulannya pamali merupakan kearifan lokal yang tidak boleh kita hilangkan akan tetapi  dalam mendidik anak tidak baik jika mendisiplinkan anak dalam rasa ketakutan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontrasnya kualitas dan kuantitas pendidikan Indonesia

Indonesia’s education system has been a high-volume, low-quality enterprise that has fallen well short of the country’s ambitions for an “internationally competitive” system.[1] Di era sekarang ini pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer sebagian masyarakat dunia, banyak orang berlomba lomba untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, bahkan sebagian masyarakat pedesaan di indonesia menganggap pendidikan merupakan simbol status sosial, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin terhormat pula seseorang dimata masyarakat. Hal ini membuat sektor pendidikan di Indonesia menjadi tambang emas yang sangat potensial bagi beberapa orang. Langkah besar pemerintah Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah telah membuat langkah besar dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan, dengan berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana dan pendidikan gratis bagi seluruh masyarakat. Terbukti  pada jumlah sekolah (semua jenjang pendidikan) pada dua tahun terakhir men...

Pikukuh Baduy : panjang jangan dipotong pendek jangan disambung

"lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung" kutipan diatas penulis kutip dari sebuah pikukuh atau nasehat yang sudah turun temurun dijaga oleh masyarakat baduy, arti dari kutipan diatas adalah panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung dari kalimat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa alam ini harus lah dijaga dan kita tidak boleh merubah dan merusak alam yang sudah Tuhan ciptakan, semua mesti dalam keadaan seimbang, tidak boleh lebih atau kurang, alam yang sudah ada sejak dulu haruslah dipelihara sebaik mungkin karena kita hidup begantung pada alam, ketika alam marah maka tidaka ada upaya yang bisa kita lakukan. jika seluruh Indonesia menerapkan apa yang dilakukan masyarakat baduy penulis percaya pasti alam kita akan selalu lestari. Jadi apa yang kita pelajari dari masyarakat baduy? adalah kita tidak boleh merusak alam seenaknya karena kita hidup dari alam maka sebaiknya kita menjaga alam kita.

Don't judge a book by its cover? Then, how we judge it?

Don't judge a book by its cover        Pernah mendengar ungkapan tersebut? Penulis yakin anda semua pasti pernah mendengarnya atau bahkan menggunakannya, ya ungkapan tersebut untuk memberikan pemahaman kepada orang bahwa untuk menilai sesuatu tidak bisa hanya melihat dari luarnya saja, namun seberapa benar ungkapan tersebut?        Di toko buku sendiri buku (baru) yang mereka jual pasti dalam keadaan terbungkus plastik, lalu bagamana cara kita menilai sebuah buku jika bukan dari jilidnya? Seorang penulis buku yang baik pasti akan memilih perancang jilid terbaik untuk karyanya karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk para pembaca karyanya. Begitu pula dengan manusia, manusia yang baik pasti akan menampilkan kesan yang baik kepada orang disekitarnya.        Jadi, nilailah buku dari jilidnya karena buku yang baik pasti ditulis oleh penulis yang baik dan penulis yang baik pasti akan memilih perancang jilid...