"Salahkah aku jika mencintai suami orang?"
"Ibuku penjual bakso boraks"
"ayahku ternyata bukan ayahmu"
Masih banyak lagi judul FTV yang terbilang nyeleneh namun justru program televisi yang seperti itulah yang justru mendapat rating tinggi. Belum lagi ditambah program program TV yang kurang memberikan nilai edukasi kepada masyarakat seperti realiti show yang hanya menyuguhkan konten hiburan saja, bahkan ujaran sarkasme, adegan kekerasan atau drama drama tak bermutu masih bisa dengan mudah kita temukan di siaran televisi. Padahal menurut survei yang dilakukan dilakukan oleh Nielsen Indonesia pada tahun 2017 Televisi merupakan media terfavorit yang digunakan masyarakat Indonesia yaitu sebanyak 96%, disusul oleh media media lainnya seperti media luar ruang, internet dan radio.
Dan dari Pengguna TV tersebut sebanyak 97% anak anak dan remaja menggunakan TV.
Penyiaran Indonesia darurat tayangan ramah anak, sekarang ini sangat jarang kita menemukan acara TV yang khusus ditujukan untuk anak-anak jika ingin mempunyai akses untuk mendapatkan siaran TV untuk anak haruslah berlangganan TV berbayar yang harganya tidak terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah.
Tips dari penulis untuk meminimalisir bahaya yang ditimbulkan dari tontonan televisi terhadap anak adalah:
- Perhatikan durasi anak dalam menonton TV, batasi anak dalam menonton TV, jangan biarkan anak menonton TV terlalu lama;
- Dampingi anak ketika menonton TV, hal ini dilakukan agar anak tidak menonton siaran yang tidak layak untuknya;
- Pastikan Tayangan yang sesuai usia anak, hal ini agar anak tidak menonton siaran TV yang menayangkan adegan adegan yang tidak sesuai kita bisa mengetahui apakah tayangan TV tersebut sesuai dengan usia penonton melalui informasi yang biasanya ada di bawah layar TV seperti A ( berarti cocok untuk anak), R-BO (Remaja - Bimbingan orang tua), D (Dewasa) atau SU (Semua Usia).
Sumber data: Nielsen Indonesia

Komentar
Posting Komentar