Langsung ke konten utama

Sikap kita untuk #2019

"turunkan presiden!"
"Turunkan harga BBM jika tidak, turunkan presiden!"
"Kurs Rupiah melemah, turunkan presiden!"
"Stop impor, jika tidak tirunkan presiden"

Mungkin ujaran ujaran di atas sering kita jumpai akhir-akhir ini sehingga membuat masyarakat resah. Tuntutan tuntutan tidak masuk akal ini seringkali muncul ketika aksi aksi yang dilakukan oleh beberapa kelompok orang. Namun kenapa semuanya tercium aroma politik disana? Karena memang hal ini merupaka dampak dari tahun politik yang akan terjadi pada tahun 2019. Sebenarnya hal hal seperti itu sering terjadi menjelang tahun politik, belum lagi jika kelompok kelompok tertentu memunculkan isu isu tertentu seperti ekonomi misalnya untuk menjatuhkan pihak lain.

Namun yang membuatnya agak aneh adalah penulis mendengar ujaran tersebut dari seorang oknum mahasiswa, padahal mahasiswa dianggap kaum intelektual yang  berbicara pada asas kebenaran dan kajian.

Namun bagaimana yang seharusnya sikap kita lakukan sebagai masyarakat awam yang tidak paham mengenai ekonomi?
Sikap yang sebaiknya kita lakukan adalah tenang, karena jika kita panik akan menimbulkan kegaduhan yang akan memperburuk situasi ekonomi sendiri.
Atau kita bisa mencari tahu kebenaran suatu isu kepada sumber sumber yang memang terjamin ke validannya.

Jadi kita jangan mudah terpancing dan terprovokasi oleh isu isu yang belum tentu benar adanya, jika mendengar suatu isu maka cari kebenarannnya.
Ayo sambut pesta rakyat terbesar ini dengan penuh kedamaian!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontrasnya kualitas dan kuantitas pendidikan Indonesia

Indonesia’s education system has been a high-volume, low-quality enterprise that has fallen well short of the country’s ambitions for an “internationally competitive” system.[1] Di era sekarang ini pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer sebagian masyarakat dunia, banyak orang berlomba lomba untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, bahkan sebagian masyarakat pedesaan di indonesia menganggap pendidikan merupakan simbol status sosial, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin terhormat pula seseorang dimata masyarakat. Hal ini membuat sektor pendidikan di Indonesia menjadi tambang emas yang sangat potensial bagi beberapa orang. Langkah besar pemerintah Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah telah membuat langkah besar dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan, dengan berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana dan pendidikan gratis bagi seluruh masyarakat. Terbukti  pada jumlah sekolah (semua jenjang pendidikan) pada dua tahun terakhir men...

Pikukuh Baduy : panjang jangan dipotong pendek jangan disambung

"lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung" kutipan diatas penulis kutip dari sebuah pikukuh atau nasehat yang sudah turun temurun dijaga oleh masyarakat baduy, arti dari kutipan diatas adalah panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung dari kalimat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa alam ini harus lah dijaga dan kita tidak boleh merubah dan merusak alam yang sudah Tuhan ciptakan, semua mesti dalam keadaan seimbang, tidak boleh lebih atau kurang, alam yang sudah ada sejak dulu haruslah dipelihara sebaik mungkin karena kita hidup begantung pada alam, ketika alam marah maka tidaka ada upaya yang bisa kita lakukan. jika seluruh Indonesia menerapkan apa yang dilakukan masyarakat baduy penulis percaya pasti alam kita akan selalu lestari. Jadi apa yang kita pelajari dari masyarakat baduy? adalah kita tidak boleh merusak alam seenaknya karena kita hidup dari alam maka sebaiknya kita menjaga alam kita.

Don't judge a book by its cover? Then, how we judge it?

Don't judge a book by its cover        Pernah mendengar ungkapan tersebut? Penulis yakin anda semua pasti pernah mendengarnya atau bahkan menggunakannya, ya ungkapan tersebut untuk memberikan pemahaman kepada orang bahwa untuk menilai sesuatu tidak bisa hanya melihat dari luarnya saja, namun seberapa benar ungkapan tersebut?        Di toko buku sendiri buku (baru) yang mereka jual pasti dalam keadaan terbungkus plastik, lalu bagamana cara kita menilai sebuah buku jika bukan dari jilidnya? Seorang penulis buku yang baik pasti akan memilih perancang jilid terbaik untuk karyanya karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk para pembaca karyanya. Begitu pula dengan manusia, manusia yang baik pasti akan menampilkan kesan yang baik kepada orang disekitarnya.        Jadi, nilailah buku dari jilidnya karena buku yang baik pasti ditulis oleh penulis yang baik dan penulis yang baik pasti akan memilih perancang jilid...