Langsung ke konten utama

Mendidik manusia atau memprogram Robot?

Sistem pendidikan Indonesia itu menghasilkan robot bernyawa yang telah diprogram sedemikian rupa agar bisa menjawab semua soal suatu ujian.

Kenapa penulis berstatemen demikian?
Penulis ingin bertanya kepada anda, apa yang biasa anda lakukan jika akan menghadapi suatu ujian?

Pasti jawabannya adalah belajar. Dengan cara apa? Dengan cara mengingat dan menghafal konsep konsep atau teori yang pernah di berikan guru.

Dan hal tersebut sama seperti halnya anda membuat suatu program robot pasti anda memasukkan semua perintah yang anda kehendaki kedalam program tersebut.

Manusia dituntut mengingat semua materi yang akan diberikan karena tujuan utama dari sekolah di Indonesia adalah lulus dari tes.

Contoh: ketika anda SD, tujuan utama dari sekolah tersebut adalah lulus dari tes yang dilakukan oleh negara (UN) dan sekolah (US) agar mendapatkan nilai maksimum dan bisa masuk ke jenjang berikutnya dan hal ini berlanjut sampai jenjang perguruan tinggi.

Hal ini membuat manusia akan melakukan sesuatu berdasarkan intruksi saja okelah pengetahuan mereka banyak mengenai teori teori yang ada jika seperti itu apa bedanya dengan robot canggih dengan intelegensi buatan?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kontrasnya kualitas dan kuantitas pendidikan Indonesia

Indonesia’s education system has been a high-volume, low-quality enterprise that has fallen well short of the country’s ambitions for an “internationally competitive” system.[1] Di era sekarang ini pendidikan sudah menjadi kebutuhan primer sebagian masyarakat dunia, banyak orang berlomba lomba untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas, bahkan sebagian masyarakat pedesaan di indonesia menganggap pendidikan merupakan simbol status sosial, semakin tinggi pendidikan seseorang semakin terhormat pula seseorang dimata masyarakat. Hal ini membuat sektor pendidikan di Indonesia menjadi tambang emas yang sangat potensial bagi beberapa orang. Langkah besar pemerintah Selama beberapa dekade terakhir, pemerintah telah membuat langkah besar dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan, dengan berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana dan pendidikan gratis bagi seluruh masyarakat. Terbukti  pada jumlah sekolah (semua jenjang pendidikan) pada dua tahun terakhir men...

Pikukuh Baduy : panjang jangan dipotong pendek jangan disambung

"lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung" kutipan diatas penulis kutip dari sebuah pikukuh atau nasehat yang sudah turun temurun dijaga oleh masyarakat baduy, arti dari kutipan diatas adalah panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung dari kalimat ini kita dapat mengambil pelajaran bahwa alam ini harus lah dijaga dan kita tidak boleh merubah dan merusak alam yang sudah Tuhan ciptakan, semua mesti dalam keadaan seimbang, tidak boleh lebih atau kurang, alam yang sudah ada sejak dulu haruslah dipelihara sebaik mungkin karena kita hidup begantung pada alam, ketika alam marah maka tidaka ada upaya yang bisa kita lakukan. jika seluruh Indonesia menerapkan apa yang dilakukan masyarakat baduy penulis percaya pasti alam kita akan selalu lestari. Jadi apa yang kita pelajari dari masyarakat baduy? adalah kita tidak boleh merusak alam seenaknya karena kita hidup dari alam maka sebaiknya kita menjaga alam kita.

Don't judge a book by its cover? Then, how we judge it?

Don't judge a book by its cover        Pernah mendengar ungkapan tersebut? Penulis yakin anda semua pasti pernah mendengarnya atau bahkan menggunakannya, ya ungkapan tersebut untuk memberikan pemahaman kepada orang bahwa untuk menilai sesuatu tidak bisa hanya melihat dari luarnya saja, namun seberapa benar ungkapan tersebut?        Di toko buku sendiri buku (baru) yang mereka jual pasti dalam keadaan terbungkus plastik, lalu bagamana cara kita menilai sebuah buku jika bukan dari jilidnya? Seorang penulis buku yang baik pasti akan memilih perancang jilid terbaik untuk karyanya karena ia ingin memberikan yang terbaik untuk para pembaca karyanya. Begitu pula dengan manusia, manusia yang baik pasti akan menampilkan kesan yang baik kepada orang disekitarnya.        Jadi, nilailah buku dari jilidnya karena buku yang baik pasti ditulis oleh penulis yang baik dan penulis yang baik pasti akan memilih perancang jilid...